Mandalamekar, Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 - 5 Juni 2012



Site Map: Home > Berita, Catatan > SID untuk Pengurangan Risiko Bencana
4 June 2012 11:56 WIB

Menurut data yang dilansir oleh United Nation (UN), kawasan Asia dan Pasifik merupakan wilayah di dunia yang paling rentan terlanda bencana alam. Indonesia, salah satunya, merupakan negara yang masuk dalam wilayah paling rentan bencana. Mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan sebagainya. Oleh karena itu, dengan begitu banyaknya dan beragamnya ancaman bencana, diperlukan penanganan dengan dengan cara yang berbeda pula.

Akhmad Nasir (berdiri) sedang memaparkan cara SID untuk pengurangan risiko bencana berbasis desa.

Hal tersebut disampaikan oleh Zulkifli Y.S., Koordinator ICT Disaster di Yayasan Air Putih, Jakarta, dalam workshop “Pengurangan Risiko Bencana Tingkat Desa” di Fetvial Jawa Kidul, Mandalamekar, Jatiwaras, Tasikmalaya, Minggu (3/6). Dengan bermacamnya ancaman bencana, menyesuaikan penangannya dengan masyarakat yang terdampak perlu dikedepankan.

“Seperti pada ancaman luberan air kawah Gunung Ijen, Banyuwangi beberapa waktu lalu. Masyarakat di sekitaran sana banyak menggunakan handphone. Sistem informasi kebencanannya juga harus berbagis handphone,” katanya Zulkifli.

Menyoroti kian berkembangnya teknologi informasi untuk kebencanaan, Twitter, yang merupakan salah satu media sosial terbesar yang dikenal di Indonesia, sudah mulai mengalahkan media mainstream. Dari kecepatan sampai keakuratan informasi yang disampaikan lewat Twitter, karena setiap orang yang hadir di lokasi terjadinya bencana, bisa langsung mengabarkan info secara lengkap.

“Saya juga mengelola akun Twitter kebencanaan, dan arus informasi yang terjadi di sana begitu cepat dan akurat,” katanya lagi.

Sementara itu, hingga sekarang, lembaga-lembaga negara yang berwewenang mengurusi pengurangan risiko bencana di Indonesia masih cenderung melihat perbandingan dengan negara yang lebih maju akan tetapi berbeda kondisinya dengan Indonesia. Seperti misalnya sistem pengurangan risiko bencana di Amerika Serikat.

“Akan tetapi sistem di Amerika Serikat itu belum cukup,” kata Akhmad Nasir dari COMBINE Resource Institituon, yang juga menjadi narasumber dalam workshop tersebut. “Ancaman bencana alam di AS tidak sebanyak dan tidak begitu beragam dibanding Indonesia.”

Indonesia, kata Akhmad Nasir justru lebih punya banyak pengalaman dalam menghadapi bencana ketimbang Amerika Serikat yang teknologinya sudah maju. Indonesia, kata Nasir lagi, punya kekuatan sosial, semangat saling membantu dan bergotong royong, yang tidak dipunyai oleh negeri orang lain yang kita jadikan rujukan.

“Radio Lintas Merapi FM, Deles, Klaten, telah lama menyiapkan warganya untuk menghadapi bencana erupsi dan letusan Gunung Merapi dengan siaran radio. Mereka punya semboyan bagus: hidup nyaman dengan ancaman,” kata Nasir lagi.

Sementara itu, Nasir menggarisbawahi, banyak wilayah yang belum siap menghadapi bencana. Yang paling sering didengar ketika terjadi bencana, adalah proses pendataan. Padahal, dalam kondisi bencana, tarafnya tidak lagi mendata, tetapi menggunakan data untuk penanganan bencana.

“Masalah tersebut bisa dipecahkan dengan keberadaan Sistem Informasi Desa (SID) untuk kebencanaan. Dengan SID, kita bisa dengan cepat menghitung berapa warga yang paling rentan seperti jumlah lansia dan balita. Seperti di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul, kalau ada 832 lansia, dan 242 balita, apa yang dilakukan saat terjadi bencana?” jelas Nasir. (KA/CRI)

Baca Juga :

  • » Lestarikan Tradisi, Warga Mandalamekar Tutup Rangkaian JadulFest dengan Pengajian
  • » Kembangkan Ekonomi Kolektif, SPP Tingkatkan Kesejahteraan Petani
  • » Kumpulan Materi Hari Kedua Jadulfest 2012
  • » Kedaulatan Desa Perlu Dipulihkan Segera
  • » Keterbukaan Publik Adalah Budaya Indonesia

  • Komentar Melalui Facebook :

    Nama* Comment
    E-mail*
    Website