Mandalamekar, Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 - 5 Juni 2012



Site Map: Home > Catatan > Berbakti di PMI Karena Tuhan
4 June 2012 03:38 WIB

Diding Syamsudin (kiri) dan Usep Suwaryana (kanan) ketika bertugas di JadulFest 2012. (Foto: Yudha PS)

Meski kumandang adzan Ashar menggema, tetapi tidak menyurutkan semangat Diding Syamsudin (65) melayani masyarakat Desa Mandalamekar. Dia bersama timnya dari Palang Merah Indonesia (PMI) Tasikmalaya, menguji golongan darah warga Mandalamekar selama pagelaran Festival Jawa Kidul (JadulFest) 2012.

Padahal, untuk mencapai Mandalamekar, bukan hal yang mudah bagi Diding dan 7 orang lainnya dari PMI. “Kami berangkat dari jam 8, baru sampai sini (Mandalamekar) jam 11,” imbuh Diding. “Lamanya (perjalanan) karena jalannya jelek,” lanjutnya.

Meskipun begitu, tekadnya untuk melayani warga tidak berkurang sedikit pun. Buktinya, sudah 112 golongan darah pendaftar yang sudah tercatat di buku kecilnya. Itu pun masih bertambah. Dengan sabar, dia menunggu temannya, Usep Suwaryana (56), yang sejak tadi bertugas menguji tetesan-tetesan darah warga.

Tangan Usep yang mulai berkerut dan keriput itu, masih lincah meneteskan serum antigen A dan antigen B ke tiga tetes darah seorang warga. Dengan cepat juga dia memberitahukan golongan darah warga yang telah diujinya ke Diding.

“Kami melakukan (pelayanan masyarakat) ini secara sukarela,” celetuk Diding. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil ini mengaku telah menjadi sukarelawan PMI sejak tahun 1974. Sejak saat itu, Diding menjalani misi kemanusiaan ke berbagai tempat di Tasikmalaya, bahkan di Indonesia.

Sudah banyak pengalaman Usep dan Diding dalam misi kemanusiaan melalui PMI. Salah satunya membantu korban bencana meletusnya Gunung Galunggung di era tahun 1980-an. Di lokasi pengungsian, mereka bertahan selama 2 hari 2 malam. “Padahal korban waktu itu memaki-maki kami. Namun kami hadapi dengan sabar,” kenang Diding.

Misi lainnya, Diding dan Usep pernah dikirim untuk membantu korban bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam. “Sayangnya waktu bencana tsunami di Jepang (tahun 2011), kami tidak bisa ikut. Karena tidak bisa Bahasa Inggris. Padahal ingin sekali ke sana (Jepang),” canda Diding.

Karena sukarelawan, Diding mengaku tidak digaji sedikit pun oleh PMI. Dia mengaku sepenuhnya berbakti untuk masyarakat melalui PMI. “Bagi kami, merupakan kepuasan bathin karena bisa menolong orang,” sambungnya.

“Nanti biar Allah yang akan membayarnya (gaji),” timpal Usep menanggapi pernyataan Diding. Sukarelawan yang bergabung dengan PMI sejak 1978 ini, mengaku tidak melihat materi dalam melaksanakan tugasnya. Kuncinya, menurutnya adalah menjiwai peranananya sebagai sukarelawan. “Kalau (pekerjaan) nggak terjiwai, (manusianya) bisa hancur,” simpul Usep.

“Allah mah Maha Pengasih. Bila kita berbuat baik, kita tidak akan kelaparan. Kuncinya adalah yakin,” Diding menanggapi. Diding pun mencontohkan keajaiban-keajaiaban yang pernah dialaminya. Salah satunya ketika dia makan di rumah makan.Ketika akan membayar ke kasir, seringkali kasirnya menolak. Alasannya, sang kasir menyebutkan sudah ada orang yang sudah membayari makanannya. “Padahal, saya tidak pernah tahu dan kenal orang yang membayarnya,” tutupnya.*** (Yudha P Sunandar)

Baca Juga :

  • » Lestarikan Tradisi, Warga Mandalamekar Tutup Rangkaian JadulFest dengan Pengajian
  • » Kembangkan Ekonomi Kolektif, SPP Tingkatkan Kesejahteraan Petani
  • » Kumpulan Materi Hari Kedua Jadulfest 2012
  • » Kedaulatan Desa Perlu Dipulihkan Segera
  • » Keterbukaan Publik Adalah Budaya Indonesia

  • Komentar Melalui Facebook :

    Nama* Comment
    E-mail*
    Website